stetes tinta hati

Hati, ia menjadi sedemikian cantik dan menarik, ketika kita bersedia mendandannya walau ia tanpa rupa. Lebih sering menatanya ketika ia merasa tak tertata. Dan meluangkan lebih banyak waktu kita untuk memperhatikan kondisi terakhirnya, adalah juga salah satu cara yang dapat kita lakukan dalam rangka menjaga persahabatan dengannya. Karena ia adalah sahabat kita yang akan menjadi baik kalau kita berusaha terus menerus memperbaikinya. Karena ia akan membawa kita pada kondisi yang kita inginkan, kalau kita jeli dalam mengendalikannya. Ia akan membawa kita pada kebahagiaan kalau kita mau membahagiakannya. Ia akan mempedulikan kita, kalau kita pun peduli padanya. Lalu, siapakah kita?  Kita yang sedang membersamainya. Namun terkadang, kita tidak mengenal ia yang sedang kita bersamai.

Hati, menjaganya merupakan salah satu tugas terpenting kita dalam menjalani perjalanan kehidupan ini. Menjaganya senantiasa, dari beraneka godaan yang seringkali datang menerpa. Menjaganya agar selalu berada pada tempat yang seharusnya ia berada. Bagai sekuntum bunga, ia akan menjadi tidak segar kalau kita tidak sirami ia walau sehari. Ia akan memunculkan kelopaknya yang cerah dan menenangkan mata apabila memandangnya, kalau kita memberikan perawatan terbaik padanya. Ia adalah bunga dalam hari-hari kita. Ya, hati adalah awal hadirkan bunga senyuman pada wajah. Ketika kondisi hati kita sedang ceria maka kita dapat tersenyum dengan ringannya. Dengan suasana hati yang berbunga bahagia, maka semakin indah saja hari ini yang kita alami. But, apa hendak dikata. Saat kejadian yang sebaliknya menyapa?

Hati, mengkondisikannya lagi, sesaat setelah ia tak beraturan, adalah pekerjaan yang tidak memerlukan perencanaan. Karena suasana hati yang seringkali berubah-ubah, membuat kita mesti siap sedia berjaga-jaga kapan saja, untuk menatanya segera. Pekerjaan ini adalah tugas mulia yang membutuhkan jiwa sosial yang tinggi. Tiada imbalan berbentuk materi yang akan kita terima setelah mengerjakannya. Hanya dengan keyakinan sajalah kita dapat menyelesaikannya dengan baik. Keyakinan akan sebuah tatapan yang seringkali mengawasi kita selalu. Keyakinan akan pandangan-Nya yang tidak pernah berhenti meski sekejap. Karena hati yang sedang kita bawa-bawa adalah titipan dari-Nya. Adakah kita merasakan bahwa sebuah hati benar-benar ada bersama kita, saat ini?

Hati, titipan Ilahi yang sangat berharga. Dengan menyadari kebersamaannya selalu ada dan menemani, kita akan mau tersenyum lagi setelah sempat mengharubiru sebelumnya. Bersamanya kita kembali mau menatap dunia yang sementara ini. Lalu, kita ciptakan lagi langkah-langkah yang terbaru. Langkah yang kita gerakkan dengan kaki-kaki jiwa yang lebih ringan. Menata ulang niat yang sempat terhadirkan, adalah salah satu langkah yang dapat kita tempuh untuk mensenyumkan hati lebih indah lagi. Hati yang sempat mengalami apa itu kecewa. Ai! Ia kecewa karena niat awalnya yang mungkin belum terbaik. So, ketika hal ini benar-benar terjadi pada diri kita, adalah tugas kita untuk mengintrospeksi diri. Dengan landasan apa kita berbuat?

Hati, ketika kita meninggalkannya meski sejenak, maka ia akan pergi kemana-mana. Ia yang semaunya menjelajah ke lain negeri. Bahkan, alam yang belum pernah kita tempuhi pun, ia sambangi. Bagaimana cara yang dapat kita upayakan untuk menjemputnya lagi? Agar hati segera mendekat. Ow… seperti setengah hidup rasanya, kalau menjalani waktu meski sedetik tanpa hati. Bagi saya khususnya. Hohohoo.. so, dalam berbagai aktivitas, saya memang pake hati. Begitulah…

Hati, ia selalu mencatat dengan cepat saat ada yang mengucapkan janji padanya. Dengan demikian, menjadi lebih mudah baginya untuk mengingatkan diri lagi, ketika waktu yang telah ditentukan itu tiba. Ya, saat menagih janji. Apabila ternyata ketika waktu itu telah sampai, janji belum lagi terbukti. “Lalu, mana janjimuuuuuuuuuuuuuuu…?,” begini hati mensuarakan suaranya yang hanya akan terdengar oleh ia yang mau mendengarkan. Karena bagi hati, janji adalah tetap janji. Bukan hanya sebuah kata yang terucap tanpa bukti yang membuat janji menjadi nyata. Karena Janji adalah sebuah ikatan yang selamanya akan menaut padanya. Ia ingat. Apalagi kalau diantara pemberi janji dan penerima janji telah membuat kesepakatan untuk memenuhi. Itulah salah satu alasan, mengapa hati menagih janji. Karena baginya, janji adalah prasasti kalau sudah terbukti.

Hati, ia akan sangat mudah menyahut dan menanyai diri lagi. Bagaimana dengan janji yang telah tercipta sebelum hari ini? “Bagaimana kalau hari Senin, Bu?,” begini jawaban yang ia terima dari si pembuat janji. Jawaban yang membuat bibir ini kembali menanyai. “Lalu, bagaimana dengan janji hari ini, Pak?,” belum pernah saya berekspresi yang seperti ini dalam menagih janji. Ya, saya akhirnya menjadi begini, demi mensuarakan isi hati, itu saja. Karena selamanya ia akan menagih janji kalau saja janji apapun itu yang sampai padanya, namun belum terbukti. Ia akan teruuuuuus saja menanyai. Oleh itulah wahai hati, keep beauty ketika berjanji, yaa… karena hati siapapun, pasti meminta bukti.

Hati, ia memang menjadi sulit untuk kita mengerti, kalau kita belum lagi mau mengerti siapa ia. Bahkan untuk menyapanya saja, mungkin kita tidak akan sudi, kalau kita belum lagi mengenal siapa ia. Bagaimana juga kita akan mengerti dan mengenal tentang keberadaannya, kalau kita sendiri tidak bersegera menyapanya. Ia akan mengubah kita menurut kehendaknya, kalau kita tidak mensegerakan diri menatanya. Namun demikian, ia hanya akan bergerak ke arah yang mensinarinya. Bukankah hanya dari kegelapan, kita dapat melihat benderang?

Hati, ketika ia dalam suasana yang sangat temaram, berarti ia memerlukan penerangan. Bagaimana ia akan menjadi terang, kalau kita tidak mau membawanya menuju cahaya. Bagaimana kita akan mencapai lokasi penuh cahaya, kalau kita masih saja berdiri tegak dan tidak mau bergerak. Bagaimana cara? Apakah kita yakin dapat memperoleh apa yang kita mau dengan begitu saja, tanpa berusaha terlebih dahulu?  Sungguh, tidak ada satu hal pun di dunia ini yang terjadi dengan sendirinya, tanpa ada sebab yang melatarbelakangi. Termasuk apa yang terjadi dengan hati. Ketika ia berubah seketika, itu pertanda bahwa ia membutuhkan asupan yang akan membuatnya menemukan makna.

Hati, seperti halnya cermin, kita tidak akan dapat menatap siapa diri ini dengan jelas saat berada di depannya, kalau cermin itu berdebu. Wujud dan wajah kita akan berbentuk potongan-potongan yang menyatu, ketika kita bercermin pada cermin yang retak. Dan kita tidak akan dapat melihat diri kita secara utuh, kalau kita berdiri di depan cermin yang pecah. Ya, ketika kita berhadapan di depan cermin yang hanya tersisa sebagian saja, maka kita hanya akan melihat tangan kita saja, atau kaki-kaki saja, atau bahkan hanya sebagian dari tubuh kita. Pun, kita hanya akan berpandangan dengan  apa yang ada pada wajah saja, ketika kita berdiri di depan cermin yang kecil. Begitu pula dengan setiap pengalaman yang kita alami dari detik ke detik waktu. Waktu adalah cermin diri kita.

Hati, ia akan mencerminkan siapa kita yang sesungguhnya. Ketika ia berbuat sesuai dengan kehendaknya, maka cermin diri kita akan kembali ia pantulkan seperti demikian. Begitu pula dengan cermin yang berdebu tadi. Ketika kita berdiri di depan cermin yang berdebu, maka kita tidak akan menyaksikan ‘Si Cantik yang Menawan’, kecuali hanya bayangan semu yang tidak demikian jelas. Bahkan bisa jadi kita tidak akan percaya sama sekali dengan siapa yang ada di hadapan. Karena biasanya kita tahu, kita adalah yang paling cantik. Padahal, ketika hati kita berdebu, maka pada saat itulah, kita perlu menyadari siapa kita yang sesungguhnya.

Hati, selamanya ia akan menjadi jawaban atas tanya yang sampai padanya. Ia akan segera menjelaskan tentang siapa kita yang sesungguhnya. Ketika kita berkesempatan untuk menjaga hati segera, maka ia akan membawa kita pada kebaikan selamanya. So, semua kembali lagi kepada niat, untuk apa kita berbuat? Apakah karena memikirkan tentang kepentingan kita saja? Lalu, dengan tanpa berpikir panjang, kita membuat sesiapapun di sana, menjadi tersulitkan. Ai! “Tolong maafin saya ya, Pak…,” suara hati menempuh perjalanannya menuju ke pelosok dunia lain, di sana. Saya tidak mengenal beliau dengan jelas, apalagi untuk bertatap mata. Belum pernah kami berjumpa, sebelumnya. Sampai tragedi itu terjadipun, saya belum menyadari sepenuhnya akan siapa beliau. Ternyata beliau adalah raja. Raja? Ya, customer adalah raja. Namun, walau raja sekalipun, kalau berhubungan dengan janji, siapapun wajib! Menepatinya. Ya, saat kita akhirnya menutup pembicaraan, sang rajapun kembali ke singgasananya. Raja adalah penguasa. Namun demikian, kekuasaan raja bukan untuk tidak menepati janji.

Hati, selama ia peduli maka berbagai cara dapat ia tempuhi untuk mensenyumkan kita lagi. Wajah yang sebelumnya sempat melipat-membekas kerutan bak kertas habis diremukkan, lalu dibuka lagi. Ai! Saya merasakan sangat, bagaimana akibatnya beberapa saat setelah kejadian berlangsung. Wajah menjadi lebih berat. Sampai saat ini juga, saya membayangkan ekspresi mukaku tadi. Oh, nooooooooooooooooooo……. bagaimana ini bisa terjadi? I am sorry, so sorry, wahai hati… I love you so much. “Saya tahu, bagaimana kondisi yang engkau alami. Betapa engkau sangat berat untuk menjalankannya. Namun, disebalik kata yang terucap, saya tahu engkau menyesal…. yaaaa kan? So, mari kita saling bermaafan. Karena semua adalah pelajaran, bagi kita. Walau bagaimanapun juga, kalau namanya janji adalah perlu untuk terbukti.”

Hati, ia juga mau mengerti kalau kita mengajarkannya untuk mengerti. Hati, ia dapat segera menjadi jalan yang menghantarkan kita pada kehendak alami. Bagaimana agar kita kembali mau mensenyumi hari yang sedang kita jalani. Agar kita menyadari, bahwa segala yang terjadi, adalah bahan pelajaran tidak hanya bagi diri sendiri. Namun, bagi siapapun yang mau memetik hikmah darinya, maka kehadirannya menjadi berarti. Ya, pengalaman adalah jalan bagi kita untuk tidak hanya berfokus pada yang telah terjadi. Akan tetapi, bagaimana kita bersikap pada hari ini, sangat menentukan siapa kita. Bukan untuk menyalahkan diri sendiri saat ia berlebihan. Namun mengajarkan ia untuk mendata kesabaran. Sudah sampai di mana ia mengaplikasikan satu adab dalam perjalanan ini? Ya, karena kesabaran akan menjadi prasasti perjalanan.

Hati, seperti halnya ia yang sangat ingin menepati semua janji, apakah kita mengakui akan hal ini? Kita yang selalu ada bersamanya, sang sahabat yang senantiasa mau mengingatkan diri. Ia yang selamanya akan mengalami kondisi kritis kalau ada janji yang belum menjadi bukti. Hati, sedalam apakah kepedulianmu pada janji?

Hati, membahas tentang hati, tidak akan ada habis-habisnya. Namun intinya adalah, kalau kita menginginkan bahagia dalam menjalani hari, maka bahagiakan hati lebih awal. Niscaya apa yang kita lakukan mengalir dalam segala gerak, sikap, ucap, dan langkah-langkah kaki dalam perjalanan. Kalau hati yang telah tidak utuh ini masih tidak kita pedulikan lagi, bagaimana kita akan mampu memandangi berbagai aneka warna dunia? Bagaimana kita dapat menyaksikan bahwa putih itu bersih, kalau mata hati kita tertutup oleh janji yang belum tertepati? Bagaimana kita dapat merasakan panas itu membakar, kalau kita belum lagi mengalaminya? Bagaimana kita tahu kesegaran hijau itu ternyata meneduhkan mata yang memandang, kalau kita belum pernah menyaksikan bagaimana elok rupanya? Bagaimana kita mengerti dan memahami pesan dari warna-warni yang muncul saat kita menempuh hari, kalau kita tidak menikmati setiap detiknya? Truss…. bagaimana kita dapat menyadari arti penting dan makna yang terpetiki dari berbagi, sekiranya kita belum lagi melakukannya? Bagaimana, bagaimana kalau janji-janji masih tinggal janji? Apakah engkau pernah mengalami hal ini, wahai teman? Bukankah apa yang kita alami, kita rasakan, pun orang lain mengalami dan merasakan hal yang serupa. Baiknya kita menanyai diri akan hal ini, semenjak awal. Agar kita segera kembalikan pada diri sendiri, sebelum berbuat kepada orang lain.

Hati, selama ia menemani, selama itu pula ia akan mensuarakan apa yang mampu ia sampaikan. Karena ia juga mempunyai suara yang perlu kita dengarkan. Suara yang tidak hadir begitu saja, namun ia ada untuk menyapa dunia kita. Walau kita tidak mau memperhatikannya sekalipun, suara hati akan terus saja memenuhi ruang renung ini. Agar kita dapat mengetahui, menyadari, lalu mengintrospeksi diri kapan saja atas segala yang kita lakukan. Apakah itu benar-benar berasal dari pinta hati? Ataukah, kita sudah bergerak tanpa hati yang sesungguhnya sangat dekat dengan diri ini?

Hati, meski tanpa kaki-kaki yang terlihat, tanpa mata yang menatap, tanpa telinga yang melengkapi, namun kenyataannya ia ada. Suaranya yang bersenandung memelodi dengan indah, akan terdengar sangat jelas, kalau kita mau menyimak dengan sepenuh jiwa. Lalu, pernahkah kita menyempatkan waktu untuk mendengarkannya? Suara dengan nada dan irama yang mampu membuai kedua bola mata ini, saat kita kembali membacanya. Suara yang terjalin dalam kalimat-kalimat yang kita rangkai, menjadi bukti bahwa janji itu tidak hanya janji. Bukankah hati berjanji, untuk menjadi jalan hadirkan senyuman pada wajah ini menjadi lebih indah lagi? Senyuman yang mengalir dari ruang hati, kemudian melewati jemari yang menari. Xixiixiii….

Janji dan hati. Yang damai yaa. Ramaikan kalimat-kalimat yang terbit setiap hari untuk setiap hati, dengan caramu. Namun ingatlah selalu akan tatapan Yang Maha Melihat, saat engkau melakukannya. Yaaaa……

:) :) :)

  “Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (Q.S An Nisaa’ [4]: 149)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Get Paid To Promote, Get Paid To Popup, Get Paid Display Banner
%d blogger menyukai ini: