Makalah Sistem Pengendalian Manajemen

PENGARUH HARGA TRANSFER DAN HARGA JUAL TERHADAP KINERJA UNIT BISNIS SEBAGAI PUSAT LABA

( Diajukan Sebagai Tugas Akhir Mata kuliah Sistem Pengendalian Manajemen )

 


Oleh :

Suryo Mulyono

09012040

 

PRODI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

YOGYAKARTA

2012

A.                Pendahuluan

Perusahaan melakukan penetapan harga dengan berbagai cara. Pada perusahaan-perusahaan kecil harga biasanya ditetapkan oleh manajemen puncak bukannya oleh bagian pemasaran. Sedangkan pada perusahaan-perusahaan besar penetapan harga biasanya ditangani oleh manajer divisi dan lini produk. Bahkan disini manajemen puncak juga menetapkan tujuan dan kebijakan umum penetapan harga serta memberikan persetujuan atas usulan harga dari manajemendibawahnya.

Harga transfer merupakan nilai yang diberikan atas suatu transfer barang dan jasa dalam suatu transaksi dimana setidaknya salah satu dari kedua pihak yang terlibat adalah pusat laba.
Perusahaan tidak hanya akan memperoleh pendapatan dari luar perusahaan saja, tetapi juga dari laba kontribusi divisi. Karena seolah-olah divisi menjadi unit bisnis yang independence, namun tetap terintegrasi satu dengan yang lainnya dalam rangka mencpai tujuan perusahaan secara keseluruhan.

Mulyadi dalam bukunya menyatakan bahwa: “Pada prinsipnya harga jual harus dapat menutupi biaya penuh ditambah dengan laba yang wajar. Harga jual sama dengan biaya produksi ditambah Mark-up.”

Selain itu Hansen & Mowen mengemukakan bahwa “Harga jual adalah jumlah moneter yang dibebankan oleh suatu unit usaha kepada pembeli atau pelanggan atas barang atau jasa yang dijual atau diserahkan”.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa harga jual adalah sejumlah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memproduksi suatu barang atau jasa ditambah dengan persentase laba yang diinginkan perusahaan, karena itu untuk mencapai laba yang diinginkan oleh perusahaan salah satu cara yang dilakukan untuk menarik minat konsumen adalah dengan cara menentukan harga yang tepat untuk produk yang terjual. Harga yang tepat adalah harga yang sesuai dengan kualitas produk suatu barang, dan harga tersebut dapat memberikan kepuasan kepada konsumen.

B.     Pembahasan

Pengertian Harga Transfer dan Harga Jual

  1. 1.    Harga transfer

Harga transfer dalam arti luas adalah harga barang dan jasa yang ditransfer antar pusat pertanggungjawaban dalam suatu organisasi tanpa memandang bentuk pusat pertanggungjawaban.
Dalam arti sempit, harga transfer adalah harga barang atau jasa yang ditransfer antar pusat laba atau setidak-tidaknya salah satu dari pusat pertanggungjawaban merupakan pusat laba. Untuk pembahasan lebih lanjut, maka harga transfer ini digunakan untuk kepentingan penilaian kemampuan laba divisi.

Menurut Supriyono (2000:416) definisi harga transfer dapat digolongkanmenjadi dua yaitu:

Dalam arti luas, harga transfer adalah nilai barang dan jasa yang ditransfer olehsuat pusat pertanggungjawaba kepusat pertanggungawaban yang lain.Dalam arti sempit, harga transferadalah nilai barang dan jasa yang ditransfer antara dua divisi (pusatlaba) atau lebih.

Sedangkan menurut Abdul Halim, Achmad Tjahjono, dan Muh. FakhriHusein (2000:110) definisi harga transfer adalah:

Dalam arti luas harga transfer adalah harga barang atau jasa yangditransfer antar pusat pertanggungjawaban dalam satu organisasitanpa memandang bentuk pusat pertanggungjawabannya

Sedangkandalam arti sempit, harga transfer adalah harga barang atau jasa yangditransfer antar pusat laba atau setidak-tidaknya salah satu daripusat pertanggungjawaban yang terlibat merupakan pusat laba.

 

 

  1. 2.      Tujuan harga transfer

Menurut Supriyono (2000:414) suatu sistem harga transfer yang baik harus mencapai tujuan sebagai berikut:

  • Memberikan informasi relevan bagi para manajer.

Sistem harga transfer dapat memberikan informasi relevan yangdiperlukan oleh setiap divisi untuk menentukan harga transfer.

  • Mencapai keselarasan tujuan.

Sistem harga transfer dapat memotivasi manajer divisi penjual,divisi pembeli dan mungkin manajer kantor pusat untuk membuatkeputusan harga transfer yang sehat. Tindakan manajer divisitertentu untuk meningkatkan laba divisinya jugadapatmeningkatkan laba perusahaan secara keseluruhan, jadidiharapkan timbul kesesuaian tujuan.

  • Mengukur kinerja ekonomi divisi.

Sistem harga transfer dapat menghasilkan laporan laba setiapdivisi individual yang secara layak mengukur kinerja ekonomi(laba bersih) divisi dan kontribusinya terhadap laba perusahaansecara keseluruhan.

  • Mengukur kinerja manajer divisi.

Sistem harga transfer harus mendorong peningkatan kinerjamanajer divisi karena harga transfer dapat digunakan sebagaidasar untuk perencanaan, pembuatan keputusan, danpengendalian divisinya.

  • Sederhana dan mudah.Sistem harga transfer harus sederhana untuk dipahami danmudah diadministrasikan.
  1. 3.      Karaktristik harga transfer

Menurut Mulyadi (2001:382) harga transfer pada hakikatnya memilki tiga karakteristik berikut ini:

  • Masalah harga transfer hanya timbul jika divisi yang terkaitdiukur kinerjanya berdasarkan atas laba yang diperoleh merekadan harga transfer merupakan unsur yang signifikan dalammembentuk biaya penuh produk yang diproduksi di divisipembeli.
  • Harga transfer selalu mengandung unsur laba didalamnya.Bagi divisi penjual, harga transfer merupakan pendapatan yangmerupakan unsur laba yang dipakai sebagai dasar pengukurankinerja divisi.
  • Harga transfer merupakan alat untuk mempertegas diversifikasidan sekaligus mengintegrasikan divisi yang dibentuk.
  1. 4.      Penentuan Harga transfer

Dua metode harga transfer yang sering digunakan dalam praktik adalah metode harga transfer berdasar pasar (market-based transfer pricing) dan metodeharga transfer berdasar biaya (cost-based transfer pricing).

  • Metode Harga Transfer Berdasar Harga Pasar

Menurut Supriyono (2000:417) metode harga pasar adalah: metode penentuan harga transfer barang atau jasa antar pusat labadidasarkan atas harga pasar dikurangi penghematan biaya karenaproduk tersebut ditransfer antardivisi. Jika terdapat harga pasar barangdan jasa yang ditransfer antarpusat laba ada maka harga pasar saat iniadalah dasar terbaik untuk penentuan harga transfer.

Menurut Supriyono (2000:417) harga pasar merupakan dasar terbaik untuk penentuan harga transfer sebab:

  • Mencerminkan transaksi independen (arm’s length transaction).

Transaksi independen (arm’s length transaction) adalah transaksi yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih secarabebas.

  • Merupakan dasar yang terbaik untuk pembuatan keputusan.

Bagi divisi penjual, harga pasar dapat dipakai dasaruntuk membuat keputusan untuk menjual barang atau jasanya ke pihak luar atau mentransfernya ke divisi yanglain.

  • Menjadikan setiap divisi sebagai satuan bisnisindependen.

Harga pasar bagi divisi penjual mencerminkan pendapatandivisi tersebut jika barang dan jasanya dijual kepada pihak luar dan bagi divisi pembeli mencerminkan biaya jika divisitersebut membelinya dari pihak luar sehingga menjadikansetiap divisi sebagai satuan bisnis independen yang terpisahsatu sama lain.

  1. 5.      Kelemahan Metode Transfer Berdasar Harga Pasar

Menurut Supriyono (2000:424) meskipun metode transfer berdasar harga pasar umumnya diakui sebagai metode yang terbaik, namun dalam keadaantertentu metode ini memiliki kelemahan sebagai berikut:

  • Tidak semua produk yang ditransfer antardivisi memiliki hargapasar.

Harga pasar seringkali berubah sehingga harga transfer produk antardivisi perlu dihitung kembali.

  • Daftar harga seringkali tidak mencerminkan harga pasarsesungguhnya atau harga pasar produk yang ditransfer tidak termuat dalam daftar harga sehingga untuk memperolehinformasi harga pasar perlu tambahan pengorbanan waktu dan biaya.
  • Penghematan biaya timbul karena produk ditransfer ke divisi lainatau tidak dijual ke pihak lain, seharusnya tidak hanya dinikmatioleh divisi pembeli saja—dalam bentuk pengurangan harga pasar—tetapi juga harus diperhitungkan pula untuk divisipenjual. Hal ini disebabkan jika divisi pembeli membeli produk dari pihak luar harganya lebih tinggi, jadi pengurangan hargatersebut ditimbulkan karena divisi penjual mau transfer produk tersebut ke divisi pembeli.

Sedangkan menurut Mulyadi (2001:315) kelemahan yang melekat padametode ini adalah:

  • Tidak semua produk mempunyai harga pasar.

Divisi penjual mempunyai pasar yang sudah pasti (yaitu divisipembeli). Oleh karena itu penghematan biaya yang timbul tidak harus dinikmati oleh divisi penjual saja, tetapi harus dinikmatipula oleh divisi pembeli.

  • Harga pasar tidak selalu sama dengan harga yang tercantum didalam daftar harga (price list). Kesulitan penentuan harga pasarakan lebih besar jika harga pasar sangat berfluktuasi.
  1. 6.      Metode Harga Transfer Berdasar Biaya

Untuk mengatasi kelemahan metode transfer berdasar harga pasar, dapatdigunakan metode transfer berdasar biaya. Menurut Supriyono (2000:425) metodeini biasanya digunakan jika terdapat kondisi-kondisi sebagai berikut:

  • Pada pasar kompetitif tidak tersedia informasi harga jual produk yang ditransfer. Keadaan ini timbul jika produk yang ditransfermerupakan produk yang belum selesai sehinnga tidak diperjualbelikan di pasar.

Kesulitan dalam penentuan harga jual yang disebabkan olehperselisihan antarmanajer divisi. Kesulitan ini ditimbulkan jika dipasar timbul beberapa macam harga dan jika produk yangditransfer tidak persis sama dengan yang ada di pasar.

Jika produk yang ditransfer mengandung formula atau prosesrahasia sehingga tidak diinginkan untuk diungkapkan pada pihak lain.

Dalam metode penentuan harga transfer berdasar biaya, besarnya hargatransfer ditentukan sebesar biaya ditambah laba sehingga metode ini sering dinamakan metode biaya ditambah laba.

  1. 1.      Pengertian Harga jual

Harga jual adalah sejumlah kompensasi (uang ataupun barang) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi barang atau jasa. Perusahaan selalu menetapkan harga produknya dengan harapan produk tersebut laku terjual dan boleh memperoleh laba yang maksimal. Hansen dan Mowen (2001:633) mendefinisikan “harga jual adalah jumlah moneter yang dibebankan oleh suatu unit usaha kepada pembeli atau pelanggan atas barang atau jasa yang dijual atau diserahkan”.

Salah satu keputusan yang sulit dihadapi suatu perusahaan adalah menetapkan harga. Meskipun cara penetapan harga yang dipakai sama bagi setiap perusahaan yaitu didasarkan pada biaya, persaingan, permintaan, dan laba. Tetapi kombinasi optimal dari faktor-faktor tersebut berbeda sesuai dengan sifat produk, pasarnya, dan tujuan perusahaan.

Menurut Ricky W. dan Ronald J. Ebert mengemukakan bahwa: “Penetapan harga jual adalah proses penentuan apa yang akan diterima suatu perusahaan dalam penjualan produknya”.

Perusahaan melakukan penetapan harga dengan berbagai cara. Pada perusahaan-perusahaan kecil harga biasanya ditetapkan oleh manajemen puncak bukannya oleh bagian pemasaran. Sedangkan pada perusahaan-perusahaan besar penetapan harga biasanya ditangani oleh manajer divisi dan lini produk. Bahkan disini manajemen puncak juga menetapkan tujuan dan kebijakan umum penetapan harga serta memberikan persetujuan atas usulan harga dari manajemen dibawahnya.

  1. 2.      Tujuan Penetapan harga jual

Tujuan Berorientasi pada Laba asumsi teori ekonomi klasik menyatakan bahwa setiapperusahaan selalu memilih harga jual yang dapat menghasilkanharga jual paling tinggi. Tujuan ini dikenal dengan istilahmaksimisasi laba.

  • Tujuan Berorientasi pada Volume

Selain tujuan berorientasi pada laba, ada pula perusahaan yangmenempatkan harga berdasarkan tujuan yang berorientasi padavolume tertentu atau dikenal dengan istilah volume pricing objectives.

  • Tujuan Berorientasi pada CitraCitra (Image).

Suatu perusahaan dapat dibentuk melalui strategipenetapan harga jual.

  • Tujuan Stabilisasi Harga Jual

Dalam pasar yang konsumennya sangat sensitif terhadap harga jual, bila suatu perusahaan menurunkan harga jual, maka parapesaing harus pula menurunkan harga jual. Kondisi seperti iniyang mendasari terbentuknya tujuan stabilisasi harga jual dalamindustri-industri tertentu yang produknya sudah ada standar.

  1. 3.      Faktor-Faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam Penentuan HargaJual
  2. Faktor Internal Perusahaan
  • Tujuan Pemasaran Perusahaan
  • Strategi Bauran Pemasaran
  • Biaya
  • Organisasi
  1. Faktor Lingkungan Eksternal
  • Sifat Pasar dan Permintaan
  • Persaingan
  1. 4.    Metode Penentuan Harga Jual

Menurut Mulyadi (2001:348) ada tiga metode dalam penentuan harga jualyaitu:

  • Penentuan Harga Jual Normal (Normal Pricing)

Metode penentuan harga jual normal seringkali disebut dengan istilah

cost-plus pricing  yaitu penentuan harga jual dengan cara menambahkanlaba yang diharapkan di atas biaya penuh masa yang akan datang untuk memproduksi dan memasarkan produk, karena harga jual ditentukandengan menambah biaya masa yang akan datang dengan suatupersentase markup (tambahan diatas jumlah biaya) yang dihitungdengan formula tertentu.

Penentuan Harga Jual Waktu dan Bahan (Time and Material Pricing) Penentuan harga jual ini ditentukan sebesar biaya penuh ditambahdengan laba yang diharapkan.

  • Penentuan Harga Jual dalam Cost-type Contract (Cost-type Contract  Pricing)

Cost-type contract adalah kontrak pembuatan produk atau jasa yang pihak pembeli setuju untuk membeli produk atau jasa pada harga yangdidasarkan pada total biaya yang sesungguhnya dikeluarkan oleh produsenditambah dengan laba yang dihitung sebesar persentase tertentu dari totalbiaya sesungguhnya.

  • Penentuan Harga Jual Produk Atau Jasa yang Dihasilkan olehPerusahaan yang Diatur dengan Peraturan Pemerintah

Produk dan jasa yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat luas seperti listrik, air, telepon dan telegraf, dan pos diaturdengan peraturan pemerintah. Harga jual produk dan jasa tersebutditentukan berdasarkan biaya penuh masa yang akan dating ditambahdengan laba yang diharapkan.

  1. 3.      Ruang Lingkup Kinerja Unit Bisnis Sebagai Pusat Laba
  2. 1.      Pengertian Kinerja Unit Bisnis

Kinerja unit bisnis didefinisikan oleh Mia dan Clarke yangdikutip oleh Gudono (2007:186) adalah: seberapa tinggi tingkat pencapaintarget yang telah direncanakan, misalnya pencapaian produksi, kos, kualitas,pengiriman produk, service atau pelayanan, volume penjualan, pangsa pasardan tingkat laba.

  1. 2.      Pusat laba

Menurut Supriyono (2000:384) pengertian pusat laba (unit bisnis) adalah: unit organisasi yang dipimpin oleh seorang manajer yang bertanggung jawab terhadap laba. Sedangkan menurut Mulyadi (2001:427) pengertian pusat laba(profit center) adalah: pusat pertanggungjawaban yang manajernya diberiwewenang untuk mengendalikan pendapatan dan biaya pusatpertanggungjawaban tersebut.

  1. 3.      Penilaian Kinerja Unit Bisnis

Menurut Supriyono (2000:385) secara umum tujuan penilaian kinerjadivisi (unit bisnis) dalam suatu organisasi adalah sebagai berikut:

  • Untuk menentukan besarnya kontribusi divisi di dalampencapaian tujuan organisasi secara keseluruhan.
  • Untuk menilai prestasi manajer divisi sesuai dengan wewenangdan tanggung jawab yang telah dibebankan kepadanya.
  • Untuk mengidentifikasi penyebab selisih pelaksanaan darirencana sesuai dengan ukuran prestasi manajer divisi yang telahdilakukan.
  • Untuk membuat saran tindakan perbaikan atas situasi yang diluar kendali.
  • Untuk memotivasi para manajer divisi dalam meningkatakanprestasi.
  • Untuk menentukan dasar perbandingan prestasi antardivisi didalam suatu organisasi.
  1. Mengukur Profitabilitas

Menurut Anthony dan Govindarajan dalam F. X.Kurniawan Tjakrawala (2008:248) Ada 2 jenis pengukuran yang digunakan dalammengevaluasi suatu pusat laba, antara lain;

  • Pengukuran kinerjamanajemen, yang memiliki fokus pada bagaimana hasil kerja para manajer.Pengukuran ini digunakan untuk perencanaan(planning) koordinasi(coordinating)dan pengendalian (controlling).
  • Ukuran kinerja ekonomis, yang memiliki fokus pada bagaimana kinerjapusat laba sebagai suatu entitas ekonomi.

Sedangkan menurut Supriyono (2000:397) pengukuran kemampuan labadivisi dapat menggunakan dua macam cara yaitu:

  • Pengukuran Kinerja Manajemen

Pengukuran kinerja manajemen (prestasi personel) adalahpengukuran kinerja yang menekankan pada penilaian seberapabaik manajer suatu pusat pertanggungjawaban berkerja.

  • Pengukuran Kinerja Ekonomi

Pengukuran kinerja ekonomi menitikberatkan pada seberapa baik suatu pusat laba berkerja sebagai suatu kesatuan ekonomi. Dalam pengukuran ini,kinerja laba suatu pusat laba tidak hanyaditentukan oleh laba yang dapat dipengaruhi atau dikendalikanoleh manajer pusat laba yang diukur tetapi juga meliputipendapatan dan biaya dari alokasi.

  1. 5.      Penilaian Kinerja Pusat Laba

Menurut Mulyadi (2001:439) pusat laba adalahpusat pertanggungjawaban yang manajernya diberi wewenang untuk mengendalikan pendapatan dan biaya pusat pertanggungjawaban tersebut.Karena laba, yang merupakan selisih antara pendapatan dan biaya, tidak dapat berdiri sendiri sebagai ukuran kinerja pusat laba, maka perludihubungkan dengan investasi yang digunakan untuk menghasilkan labatersebut. Dengan demikian, untuk mengukur kinerja pusat laba, umumnyadigunakan dua ukuran yang menghubungkan laba yang diperoleh pusat labadengan investasi yang digunakan untuk menghasilkan laba: kembalianinvestasi(return on ivestment   atau ROI) dan residual income (RI).

Dengan demikian dapat disimpulakan bahwa kinerja unit bisnis sebagai pusat laba adalah seberapa tinggi tingkat pencapaian target yang telahdirencanakan oleh unit organisasi yang dipimpin oleh seorang manajer yang bertanggung jawab terhadap laba yang dalam hal ini untuk mengukur kinerja unit bisnis sebagai pusat laba, umumnya digunakan dua ukuran yang menghubungkanlaba yang diperoleh pusat laba dengan investasi yang digunakan untuk menghasilkan laba yaitu ROI dan RI.

  1. 6.    Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja unit bisnis

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kinerja unit bisnis menurut Yulius dan Gudono (2007:6-8) adalah sebagai berikut;

  • Intensitas kompetisi pasar merupakan salah satu faktorketidakpastian lingkungan (Gul, 1991).
  • SAM merupakan sistem informasi yang mengumpulkan datakeuangan dan nonkeuangan yang kemudian data tersebutdiproses, disimpan dan dilaporkan kepada manager untuk dasarpengambilan keputusan.

Berdasarkan faktor-faktor yang dikemukakan di atas maka harga transfer dan harga jual merupakan bagian dari informasi SAM yang berhubunganmengenai pengambilan keputusan tentang product pricing.

Menurut Abdul Halim (2005:50), ada tiga faktor yang mempengaruhi laba perusahaan yaitu biaya, harga jual dan volume (penjualan dan produksi).Biaya yang timbul dari perolehan atau untuk pengolahan suatu produk atau jasa akan mempengaruhi harga jual produk yang bersangkutan. Harga jualproduk atau jasa akan mempengaruhi besarnya volume penjualan produk atau jasa yang bersangkutan, sedangkan besarnya volume penjualanberpengaruh terhadap volume produksi produk atau jasa tersebut.Selanjutnya pada gilirannya volume produksi akan mempengaruhi besarkecilnya biaya produksi. Dengan demikian faktor-faktor yangmempengaruhi laba tersebut saling terkait antara satu dengan yang lain.

Sedangkan Student Camelia Obreja (2008:164) menyatakan bahwa:

The profit center is the operational subdivision which performsits activity by attracting resources which generate revenue. The profit center is the organizational center within which profit canbe calculated. Within profit centers there are produced  subsystems, finite products or there are executed services whichare sold outside and for which a selling price is calculated”.

Dengan pernyataan di atas maka terdapat hubungan yang erat antara harga jual dengan kinerja unit bisnis sebagai pusat laba yang dinilai prestasinya berdasarkan laba yang dihasilkan. Harga jual akan mempengaruhi besarnya labayang akan didapatkan oleh unit bisnis karena unit bisnis mempunyai hak dalammelakukan keputusan mengenai pemasaran produknya sehingga harusmenetapkan harga jual yang tepat agar memperoleh laba (selisih antara pendapatan dengan biaya).

C.    Kesimpulan

Berdasarkan pernyataan diatas terdapat hubungan yang erat antara harga transfer dengan kinerja unit bisnis sebagai pusat laba. Pada perusahaan yangmelakukan divisionalisasi dimana di dalamnya terdiri dari beberapa unit bisnissebagai pusat laba maka akan terjadi transfer barang atau jasa. Hal ini disebabkantidak seluruhnya dilengkapi dengan fasilitas yang sama sehingga ada kalanya unit bisnis yang satu harus memakai barang atau jasa dari unit bisnis lainnya. Denganadanya penerapan harga transfer yang terjadi antara unit bisnis sebagai pusat labaakan mempengaruhi kinerja dari unit bisnis tersebut karena unit bisnis sebagai pusat laba diukur kinerjanya berdasarkan seberapa besar laba yang dapatdihasilkannya.

 

Galeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Get Paid To Promote, Get Paid To Popup, Get Paid Display Banner
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: